Dalam tulisan, lebih baik menggunakan logika karena logika membuat para pembaca mengerti alur pikiran dari penulis. Pembaca dapat melihat dasar pemikiran penulis, proses berpikir penulis dan kesimpulan dari penulis sehingga pemahaman pembaca kepada apa yang tertulis dapat menjadi lengkap.

Saya melihat ada penulis yang menulis seperti ini: “Israel memang biadab”. Bila penulis sudah memiliki pandangan Israel biadab dan Israel bertindak seperti yang diharapkan penulis, mengapa dia protes? Bukankah Israel bertindak seperti yang dia harapkan? Ataukah dalam hatinya, sebenarnya ia menginginkan Israel bertindak penuh belas kasih? Heran bukan ada yang berkata “Israel adalah musuh *” kemudian ia heran ketika Israel membunuh orang * . Bukankah itu harapannya? Atau dia sebenarnya berharap orang * yang membunuh Israel? Tetapi tidak menyadari bahwa itu adalah hubungan 2 arah? Dalam contoh-contoh ini kita dapat melihata bagaimana emosi mempengaruhi logika penulisan.
Etiket penulisan juga perlu diperhatikan dalam penulisan. Spasi dan enter untuk memudahkan orang membaca membuat pembaca paham apa yang hendak ditulis. Menulis dengan huruf besar semua biasanya digunakan untuk penekanan terhadap sesuatu yang ingin ditekankan dalam argumen. Menulis dengan huruf kapital seluruhnya (kecuali dalam penyebutan TUHAN, yang adalah penghormatan), saya rasa merupakan perbuatan orang yang belum matang dan tidak dapat menguasai dirinya dalam diskusi. Demikian juga dengan men-generalisir orang/ stereotiping. Biasanya orang yang melakukan hal itu sudah buntu dan sudah tidak dapat berkata apa-apa, kemudian daripada ia malu tak bisa menjawab, maka ia melakukan hal yang lebih memalukan lagi.
Teori Politik
Dalam politik, ada yang mengungkapkan:
Musuh dari musuhku adalah temanku, dan tentu saja sebaliknya teman dari musuhku adalah musuhku
Selengkapnya >> http://filsafat.kompasiana.com
Artikel Lainnya :
0 comments:
Posting Komentar